Vintage Tumblr Themes

Teruntuk sobat yang selalu bikin kacau.

Teruntuk sobat yang selalu bikin kacau, izinkan saya menitipkan sedikit cerita untuk kalian. Saya menulis semua ini hanyalah berdasarkan dari posisi yang sedang saya gandrungi saat ini, pengamat. Pengamatan melalui satu perspektif namun dengan banyak telinga yang mendukung. Mungkin ada beberapa dari kalian yang akan mengatakan, “emangnya lu siapa sih sok-sokan nulis gitu?”. Tenang, jawabannya hanya satu, saya ya hanya seorang pengamat saja. Iseng-iseng ngamatin keadaan sekitar selama dan sebelum rangkaian acara ini berlangsung.

Pertama-tama, saya salut dengan beberapa dari sobat saya yang akhir-akhir ini lebih banyak yang berani untuk menyampaikan aspirasi mereka dan berperilaku lebih kritis. Namun, entah kenapa terlalu banyak juga yang merasa dirinya ‘penting’ dan harus didahulukan segala pilihan dan pemikirannya. Memberikan aspirasi dengan diksi layaknya pelajar yang tak pernah diajar dan dengan emosi yang meluap-luap layaknya dikuasai oleh syaiton. Apa salahnya sih berucap dan bertutur dengan baik? Memberikan masukan tak harus pakai otot kan? Toh pakai otak dan hati kayaknya akan lebih efektif dan efisien kan? Apa salahnya sih menahan sedikit hawa nafsu untuk tidak emosi? Toh berbicara hati-kehati nampaknya lebih manusiawi dan didengarkan kan? 

Sobat, setiap hal pasti memiliki tujuan. Begitu pula dengan rangkaian acara ini. Dari mata seorang pengamat, saya melihat betapa beratnya beban dari kakak-kakak kita di dalam lingkup perimeter itu. Mereka memiliki tujuan baik, ingin membuat kita menjadi sebuah ‘keluarga.’ Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin memang mereka punya banyak kekurangan seperti kurang koordinasi, (pernah) kurang konsisten, dan lain-lain. Tapi apa kalian sadar, Sobat? Mereka hanyalah manusia biasa selayaknya kita. Mereka telah mengusahakan yang terbaik dari diri mereka masing-masing, namun segala kondisi yang ada mungkin tidaklah cukup memumpuni segala rencana dan rancangan mereka. Memberikan kritik tentulah hak kalian, namun bertutur kata yang baik merupakan suatu kewajiban kalian sebagai masyarakat sipil yang terpelajar.

Satu pesan lagi untuk kalian para sobat yang selalu bikin kacau, mereka berdua bukanlah tumbal kalian. Mereka membutuhkan kalian sebagai satu keluarga. Mereka membutuhkan aksi bukan hanya diksi. Menangani 278 kepala itu tidak semudah menangani 278 kutu. Oleh karena itu, tolonglah lupakan secara perlahan rasa egoisme yang kukuh itu, lupakan dan membaurlah dalam rasa kekeluargaan yang telah ditawarkan oleh kakak-kakak kita, serta bersikaplah selayaknya jargon yang sering kalian tuturkan itu, yang malam ini kuingat bertuliskan, “Saya, Kami, Satu.” Janganlah sampai hanya menjadi jargon yang tak berarti, dan akhirnya mati ditinggal pergi. Jikalau ingin bertutur kata, ingatlah kalian membawa 279 nama yang lainnya, bukan hanya berdasar dari nama pribadi, Sobat.

Lanjutkan segala keinginan kalian, namun sekali lagi ingatlah dengan sesama. Mereka bukan tumbal dan kalian bukan penguasa. Sadar dirilah, Sobat! 

Mohon maaf bila banyak yang kurang berkenan, ini hanya sedikit catatan perjalanan dari seorang pengamat. Selamat malam.

Teruntuk sahabat seperjuangan,

Hari-hari yang berat telah kita lalui bersama dan kini akan tiba (lagi) hari-hari yang berat seperti apa yang dahulu telah kita lalui. Janganlah kalian lupa untuk saling menepuk pundak dan bergenggam tangan. Genggam dengan erat jangan sampai ada yang terlepas dan terlewat. Berucap semangat jangan sampai berucap keluhan. Saling menyelaraskan jangan sampai saling menjatuhkan. Saling membimbing jangan sampai saling menggurui. Kita adalah satu, satu perjuangan dan satu perasaan. Disaat satu terjatuh, janganlah yang lain ikut terjatuh. Tetapi bantulah mereka agar kembali berdiri bukan malah terjatuh dan akhirnya tak bisa bangkit lagi. Semangat sahabat, jikalau semua kita lalui dengan kebersamaan niscaya semuanya akan berjalan dengan baik dan sempurna. InsyaAllah. Saya, Kami, Satu.

Disela-sela hecticnya hari pertama akan PPAB, masih mau sempetin nulis sepatah-duapatah kata dulu disini. Akhir-akhir ini merasa lebih dekat dengan mereka. Bekerja bersama, menuai tawa, membagi cerita, dan mengibarkan kata semangat untuk satu sama lain. Banyak ilmu-ilmu sosial yang sangat bermanfaat dari mereka akhir-akhir ini. 

Jikalau sedih sedang menerpa, senyuman mereka datang menyapa. Mengangkat sedikit demi sedikit beban di dada, sayang bukan beban di badan. Luapan semangat dan dukungan menghujam telinga dan pundak ini. Mereka selalu ada dalam suka dan duka. Terutama kamu, terima kasih sudah banyak membantu. Sahabat adalah kalian.

Saya,

Kami,

Satu.

"Aku sudah terlalu jauh berlayar, hingga jalan pulang pun tak mampu terekam lagi dalam pita ingatanku. Tuhan, tolong aku!"

"Kita terlalu sibuk tumbuh menjadi dewasa, sampai lupa kalau orang tua kita juga semakin bertambah tua."

- Unknown.

"Kita selalu mencari ribuan alasan yang bisa menerangkan mengapa kita jatuh cinta, tapi pada akhirnya, kita kembali pada satu kesimpulan: kita tidak punya satu pun alasan."

-

Intan Kirana dalam Prosa Layang-Layang

(via kuntawiaji)

"Semua mata dapat terbaca dengan mudahnya, namun tidak dengan matamu."

Burung kecil.

Perlahan namun pasti, daun-daun itu mulai jatuh berguguran. Burung-burung kecil pun telah lelah dan bosan, sudah telalu lama mereka bertengger di sarangnya. Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk terbang ke langit yang luas, bebas, dan lepas. Mencari tempat baru yang memiliki sisi nyaman dan aman tersendiri bagi mereka. Lelah telah mengalahkan semangat mereka terdahulu, namun lelah pula lah yang telah membangkitkan semangat baru di hati dan jiwa dari masing-masing dari mereka untuk terus melangkah maju dan menikmati hidup. Kita semua telah memiliki garis hidup kita masing-masing, garis yang telah ditentukan Tuhan kita. Namun semuanya bisa saja berubah, berdasar atas apa yang telah kita usahakan dan kita lakukan.

Hari ini dua burung kecil telah memutuskan sesuatu yang berat untuk memperbaiki kesalahan kecil yang mungkin tanpa sengaja mereka lakukan di hari-hari yang telah berlalu dengan cepatnya. Hari ini terlihat senyum tipis tak berwarna, tatapan mata yang berbicara, dan bahasa tubuh lelah yang tak sengaja terbaca secara terbata-bata, dari kedua burung kecil itu. Mereka akan segera meninggalkan sarang mereka masing-masing. Mencari sarang baru, dengan semangat yang baru. Semangat berjuang, burung kecil. Semoga kalian sukses.

Salam hangat,

teman-teman seperjuanganmu yang akan selalu mendukungmu.

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya
Satu-satu, burung kecil, berterbangan tinggalkan sarangnya
Jauh-jauh ke langit yang biru…”